Kacong Luthfi

kalo orang lain bisa kenapa saya tidak bisa?

Mahalnya Sebuah Kebenaran

Mahalnya Sebuah Kebenaran

 

Judul               : Baudolino

Pengarang        : Umberto Eco

Penerjemah      : Nin Bakti Soemanto

Penerbit            : Bentang Yogyakarta

Cetakan I         : Juni 2006

Tebal                : vi + 752 Halaman

Peresensi          : Ahmad Luthfie*

 

Manusia yang sejati adalah seorang yang adil, dan seorang yang adil adalah seorang yang bebas, bebas dari keinginan yang tercela, hawa nafsu dan tahayu-tahayul. Dia berkata benar, percaya pada kesetaraan dan persaudaraan, kebebasan, dan integritas manusia. Karena seorang yang menyimpang dari kebenaran seperti seorang budak bisu yang tunduk kepada majikannya.

Kebenaran bisa ditegakkan dimuka bumi, jikalau orang-orang yang mendiami planet ini mempunyai sifat jujur. Kebenaran dan kejujuran merupakan sebuah pasangan yang tidak bisa dipisahkan. Maka dari itu, kejujuran merupakan kata kunci melihat manusia dalam menegakkan kebenaran. Karena kebanyakan manusia sering kali mengatasnamakan kebenaran demi menarik simpati masyarakat, lebih-lebih para penguasa, padahal pada hakekatnya mereka itu melakukan hanya demi melanggengkan kekuasaannya belaka.

Sama halnya di sebuah Negara kebenaran akan tumbuh subur, apabila seorang pemimpinnya mempunyai sifat jujur. Karena dalam diri Negara ada sebuah kekuasaan, dan kekuasaan itu sarat dengan intrik, menghalalkan segala cara demi memperoleh kekuasaan, romantika, dan petualangan seorang ummat manusia di dunia fana ini. Jikalau itu semua tidak dibarengi dengan sifat kejujuran yang tertanam pada diri seorang pemimpin, maka perlu diragukan kebenarannya bahkan dapat dibilang tidak benar sama sekali.

Begitulah sekelumit isi buku Baudolino karya Umberto Eco ini, yang membawa kita untuk menjelajahi sebuah kebenaran dan kejujuran baik bagi rakyat biasa terutama seorang pemimpin harus menjujung tinggi sebuah kebenaran yang hakiki, karena kita tahu bahwa pemimpin yang dicintai rakyatnya adalah seorang pemimpin yang selalu menegakkan kebenaran. Artinya membuang sifat Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN) serta membela kepentingan rakyat akar rumput menjadi prioritas dalam tampuk kepemimpinannya.

Kalau berbicara Negara Indonesia, yang menjadi pertannyaan sudahkah kebenaran itu dilakukan bagi para pejabat Negara? Jawabannya semu bahkan tidak dilakukan sama sekali. Kalau kita merujuk buku ini, kebenaran di Indonesia hanya milik mereka yang berduit, akibatnya hukum bisa dibeli dengan uang dan krisis identitas belum terselesaikan. Maraknya pencurian dan perampokan menjelang Hari Raya sudah salah atu bukti dari ketimpangan sosial yang disebabkan kemiskinan dan pengangguran tak kunjung selesai. Padahal Negara Indonesia terkenal dengan sebutan Negara agraris kaya sumber daya alamnya. Kenapa ini bisa terjadi?.

Untuk menyelesaikan fenomena diatas, kejujuran dari setiap individu dan para pejabat sangat penting. Kalau sifat jujur belum tercipta di dalam hati para pejabat negara, jangan salahkan jikalau semua kebijakan mereka ambil hanya menguntungkan dirinya dan kelompok tertentu dalam mengembang tanggung jawab yang mereka pikul. Biasnya kemudian manipulasi data sering dilakukan oleh para pejabat Negara kepada atasannya. Pameo Asal Bapak Senang (ABS) masih tumbuh bersemi bagaikan lumut di musim semi. Sifat kritis dan menentang atasan yang sewenang-wenang itu tidak terjadi.

Sifat berani yang dilakukan oleh Baudolino ini perlu ditiru oleh kalangan pemegang keputusan demi terealisasinya kebenaran dan kejujuran tetap subur didalam hati orang-orang Indonesia. Baudolino tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Ia mundur, menangis, menuduh kaisar kejam sambil menuding kearah Kaisar. Bahwa kaisar tidak bisa menyatakan dirinya sebagai sumber keadilan jika ia pada saat itu bertindak tidak adil. (hal. 144)

Keberanian untuk mengambil resiko dan berani mengakui kesalahannya yang telah diperbuat adalah salah satu keyword dari kebenaran dan kejujuran. Sosok Baudolino yang digambarkan oleh Umberto Eco ini adalah sesosok bawahan yang sering mengkritik habis-habisan manakalah sang Kaisar berbuat kesalahan, dia berani mengambil resiko walaupun nyawa taruhannya. Anehnya lagi dia mengakui segala kesalahan apabila perbuatannya salah menurut konstitusi kerajaan dan adat istiadadat yang berlaku di masa Romawi. Sifat yang seperti ini tidak pernah terjadi di Indonesia, khususnya orang-orang yang melakukan korupsi, pelanggaran HAM, dan pencurian uang Negara yaitu minta maaf  atas segala kesalahannya (menyerahkan diri kepada pihak berwenang).

Suatu ketika Baudolino melakukan kesalahan. Keesokan harinya langsung menghadap sang Kaisar untuk minta maaf atas kata-kata kasarnya yang ia ucapkan. Sang Kaisar yang bijak berkata sambil menepuk pundaknya “saya lebih suka kamu, dibandingkan seratus penjilat yang mengelilingiku ”. (hal.150). kita tahu bahwa para koruptor kelas kakap di Indonesia lari dari jeratan hukum, mereka ketakutan tidak betah di tanah kelahirnya, demi meloloskan diri dari hokum, lari keluar negeri. Inilah sosok pengenyut orang Indonesia lari dari perbuatannya sendiri.  

Dalam suatu sejarah besar ummat manusia, kebenaran bisa dilakukan dari yang kecil terlebih dahulu, karena kebenaran kecil bisa diubah sedemikian rupa sehingga muncul kebenaran yang besar.

Kebenaran dan kejujuran tidak bisa dibeli dengan uang, akan tetapi kebenaran dan kejujuran bisa dilakukan apabila ummat manusia dengan sadar dan berniat beribadah dalam setiap pekerjaannya. Maka dari itu, kebenaran dan kejujuran jangan dijadikan sebuah wacana belaka melainkan sebuah tindakan dalam sehari-hari. Baik itu rakyat kecil maupun para penegak hukum, agar kehidupan bernuansa dengan cinta kasih dan kebenaran tidak mahal harganya. Semoga !!.[].

 

November 29, 2007 - Ditulis oleh ahmad luthfi | resensi buku | | & Komentar

& Komentar »

  1. de’ remmah kabere kana’?

    Komentar oleh syaiful | Januari 5, 2008

  2. kadiponapa kabar epon, samangken bada ka’ dimma epon?

    Komentar oleh ahmad luthfi | Januari 23, 2008

  3. olle? kamu madura mana bos?iya engkok oreng madura sumenep.

    Komentar oleh yamin | Februari 10, 2008


Tinggalkan komentar